Definisi "Orang Besar" Menurut Tan Siong Pik

March 2nd, 2010

PENGALAMAN saya berorganisasi sejak remaja sangat membantu dalam mengelola MarkPlus Professional Service, terutama pada saat awal. Papa saya yang pegawai negeri selalu menjadi contoh bagaimana dia suka beraktivitas sosial. Kami merupakan keluarga sederhana yang tinggal di kampung Kapasari, Gang Lima, Surabaya.

Waktu masa kecil saya juga di situ. Bahkan, sampai melahirkan Michael, anak pertama, saya masih di kampung itu. Di kampung, kami hidup sangat harmonis. Kalau Idul Fitri, orang-orang Tionghoa mengirimkan kue kering sambil mengucapkan selamat. Sebaliknya, waktu Imlek, para tetangga muslim mengirimkan kue basah kepada kami.

Read the rest of this entry »

Bagaimana Pendapat Anda?

March 2nd, 2010

Upaya membangun MarkPlus Professional Service yang dimulai 1 Mei 1990 memang tidak mudah. Berbagai cara kreatif saya lakukan supaya MarkPlus bisa hidup dan maju, terutama pada tahun-tahun pertama. Salah satu cara yang saya pakai adalah menerbitkan buku.

Kumpulan tulisan saya di Jawa Pos, tiap Rabu selama sepuluh tahun berturut-turut, banyak penggemarnya. Penulis lain yang diminta pak Dahlan untuk mengisi hari-hari lain tidak ada yang selama itu. Saya pun selalu mengakhiri tulisan saya dengan kalimat, “Bagaimana pendapat Anda?” Suatu pertanyaan yang sebenarnya merupakan “pernyataan” keterbukaan saya. Boleh setuju atau tidak.

Read the rest of this entry »

Sepuluh Cara Membawa Konsep Surabaya ke Dunia

March 2nd, 2010

Keluhan terbesar di Indonesia -biasanya dari pengusaha small medium enterprise- adalah bisa membuat, tapi tidak bisa menjual. Namun, saya membuktikan, saya menulis Marketing Plus 2000 dan saya memasarkannya. Padahal, sebagai orang Indonesia (lebih repot lagi sebagai bonek Surabaya) yang bukan doktor dan profesor, upaya tersebut pasti tidak gampang! Apalagi, saya tergolong VSE atau very small enterprise ketika itu. Atau one man show plus alias perusahaan satu orang yang dibantu beberapa orang.

If you are small, you must be creative! Itu semboyan yang selalu saya pegang, ajarkan, dan laksanakan sendiri. Don’t only complain, but please be creative! Lantas, apa yang saya lakukan dengan Marketing Plus 2000? Ada banyak cara. Pertama, selalu konsisten memakai model yang sama ketika memberikan ceramah ke mana-mana. Termasuk pada “kuliah umum” di MM-UI!

Read the rest of this entry »

Tiket Nonton Piala Dunia 2010 Gratis dari VISA

March 1st, 2010

KARTU kredit Visa sebagai mitra global FIFA akan membagikan 11 paket tiket gratis nonton langsung Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan bagi pemegang kartu kredit Visa di Indonesia. Program ini diberi nama Belaka dan Menangkan Perjalanan FIFA World Cup 2010. Hanya dengan berbelanja minimal Rp 150.000 setiap transaksi, pemegang kartu kredit bisa mendapatkan kesempatan terbang ke Afrika Selatan dan menyaksikan pertandingan final dan perempat final.

Untuk mengikuti undian mi, para pemegang kartu kredit Visa maupun Visa Prabayar harus bertransaksi dan mengirimkan SMS kode transaksi. Country Manager Visa Indonesia, Blyana Fuad, mengatakan setiap paket digunakan untuk dua orang sehingga ada 22 orang yang akan berangkat menonton Piala Dunia 2010 di Afsel.

Read the rest of this entry »

Just In Time, Bukan Just In Case

February 27th, 2010

ELEMEN ketiga di dimensi value di konsep Marketing Plus 2000 adalah process. Juga elemen kesembilan di antara semua elemen yang terbagi dalam dimensi strategy, tactic, dan value. Mengapa process saya ”pasang” di value bersama service dan brand ? Sebab, tanpa perbaikan process, service tidak bisa improved dan akhirnya akan berakibat pada brand image.

Terus terang, saya sangat terinspirasi oleh profesor-profesor dari Wharton School of Management yang mengaitkan process dan service. Reengineering process for customer service! Begitu maknanya kira-kira!

Bahkan, Philip Kotler pernah menanyakan kepada saya di Moscow pada 1998, mengapa process ”masuk” di marketing? Jawab saya sederhana.Percuma saja punya strategi dan taktik yang bagus kalau tidak ada the real value creation. Brand yang kuat, buat saya, tercipta kalau mental service ada di seluruh perusahaan. Tapi, percuma saja kalau prosesnya tidak in line dengan kedua hal tersebut.

Read the rest of this entry »

Every Business is A Service Business

February 26th, 2010

KETIKA saya menjelaskan konsep “Marketing Plus 2000″ kepada Philip Kotler di Moskow pada 1998, saya sempat ditanyai tentang Service. Kenapa Service merupakan bagian dari value?

Sejak saya menulis konsep itu pada 1993, saya memang memisahkan Service dari product. Ini sama dengan brand, yang harus “keluar” dari product. Buat saya, Service punya makna yang sangat “besar”. Bukan sekadar after sales-service yang sering menjadi satu paket dengan produk. Service seharusnya sudah dilakukan sebelum penjualan terjadi, boleh disebut before sales-service.

Read the rest of this entry »

Brand Adalah Nama yang Bermakna

February 25th, 2010

SAYA menempatkan brand di luar product pada 1993. Itu merupakan “keberanian” tersendiri. Waktu itu, konsep brand masih baru populer.

Banyak orang masih menganggap brand adalah bagian dari product. Karena itu, banyak organisasi perusahaan yang hanya punya product manager, bukan brand manager.

Perusahaan seperti itu sebenarnya masih berorientasi pada production atau product. Lebih mudah mengategorikan berbagai produk jadi product lines. Bisa jadi, produk-produk menggunakan brand yang berbeda satu sama lain. Kalaupun harus me-manage berbagai manager, seorang product manager akan “pecah konsentrasi”. Kenapa? Sebab, setiap brand punya image sendiri yang akan diciptakan!

Read the rest of this entry »

Menggabungkan (Merge) File yang Terpisah

February 25th, 2010

Setelah utak-atik dan googling beberapa saat karena bingung untuk menggabungkan (merge) file yang terpisah untuk file jenis film yang didownload dari rapidshare didapatkan hasil yang cukup mudah yaitu :

Masuk ke command line (start > run > ketik: cmd).
Setelah muncul prompt nya, masuk ke folder tempat file-file tersebet (misalnya, ketik: cd \dokumen\koleksi\film)
Lalu ketik:
COPY /V /B FILE.001 + FILE.002 + FILE.003 FILE.AVI

Read the rest of this entry »

Selling is (Part Of ) Marketing

February 24th, 2010

SELLING adalah elemen paling populer dalam marketing. Di dalam konsep “Marketing Plus 2000″ yang saya tulis pada 1993, selling merupakan elemen ke 6 dari sembilan elemen pemasaran. Selling juga sering disalahartikan dengan marketing. Banyak salesman menyebut dirinya orang marketing atau marketing representative. Terdengar lebih gagah kan ? Walaupun tidak tahu beda antara keduanya.

Buat saya sangat jelas, selling adalah bagian dari marketing. Selling berada di dimensi taktik dari marketing. Karena itu, keberadaannya tidak bisa terlepas dari tiga elemen strategi, yaitu segmentation, targeting, dan positioning. Juga tidak bisa lepas begitu saja dari differentiation dan marketing mix.

Read the rest of this entry »

Alfabet Marketing Mix: A , B , P , V , C

February 24th, 2010

BANYAK orang yang menganggap bahwa marketing adalah marketing mix. Lebih terkenal sebagai 4P! Product, price, place, and promotion. Banyak yang mengira 4P berasal dari Philip Kotler. Yang mulai mengatakan bahwa marketing mix adalah 4P adalah Jerome McCarthy yang sebelumnya disebut P2CP.

Namun, Philip Kotler yang memopulerkan product, price, channel, dan promotion. Supaya gampang diingat, channel lantas disebut place. Tapi, sebenarnya, promotion juga harus diartikan sebagai komunikasi pemasaran secara luas. Bukan cuma promosi jangka pendek.

Terlepas dari semua itu, “urutan” marketing mix itu cukup logis. Produk harus ada dulu. Kalau enggak, apanya yang mau dipasarkan? Lalu dikasih harga, disalurkan, dan dipromosikan. Waktu saya merumuskan lima tahapan competitive setting, saya juga melihat adanya “pergeseran” dari bauran pemasaran ini. Dari 4A ke 4C!

Read the rest of this entry »